From July 27, 2011

Asyik, aku bisa menghadiri book launching “STILL MORE ABOUT NOTHING” di Cold Stone, PIM 2. Yang menarik pada peluncuran buku ini adalah dilakukan disebuah kedai ice cream di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Sungguh beruntung aku bisa mendapatkan voucher yang dapat ditukarkan dengan ice cream dan sebuah buku yang aku yakin bisa lebih membuka pengetahuanku tentang sesuatu yang biasa tapi sebenarnya luar biasa, karena Wimar Witoelar terkenal akan keahliannya untuk melakukan hal tersebut.

Sebenernya anakku Ibn yang sangat bersemangat atas peluncuran buku ini. Ia ikutan mengantri untuk mendapatkan tanda tangan lalu tampak serius sekali membaca buku tersebut selama acara masih berlangsung. Bahkan saat makan malam ia masih tampak membaca buku tersebut sembari menunggu hidangan disajikan.

Saat ku menulis artikel ini di tengah malam, tentunya Ibn sudah tidur. Dilihat dari pembatas buku yang terselip, tampaknya Ibn sudah membaca sampai halaman 118 dan hendak akan membaca artikel yang berjudul “Sungai es Eyjafjalla”. Aku pun mencuri start dengan membaca buku tersebut dari artikel itu. Hahaha benar dugaanku, Wimar Witoelar bisa saja menyambungkan dua hal yang sangat jauh (menurutku loh ya) menjadi sangat dekat dan mirip. Ternyata Wimar Witoelar menghubungkan berita bencana gunung Eyjafjallajokull (dibacanya; Ayafeeyala-yurkul, semoga aku tidak salah menuliskannya) di Islandia dengan bencana lumpur di Sidoarjo (dunia internasional menyebutnya Lusi, Lumpur Sidoarjo). Kutipan dari tulisan Wimar Witoelar yang aku anggap menarik adalah
“Tidak ada berita apakah Arema sekarang terbang dari Malang atau tetap meluangkan waktu untuk jalan ke Bandara Djuanda kalau mau main di Jawa Barat. Tapi, kalau di Eropa, semua orang tahu bahwa tim Barcelona bila ingin ke Milan harus naik kereta api sehingga bisa memuaskan pemain seperti Dennis Bergkamp yang tak pernah mau naik pesawat terbang – sekalipun tanpa musibah Eyjafjallajokull”.

Sungguh tak sabar untuk lanjut membaca buku ringan berbobot ini.